Jumat, 24 April 2015

Pembelajaran Inovatif
 Untuk  mencapai  tujuan  pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum harus menggunakan model pembelajaran yang inovatif. Model pembelajaran yang inovatif adalah model pembelajaran yang berdasarkan teori pembelajaran kognitif yang salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Pembelajaran yang inovatif memusatkan kepada berfikir, dan laju perkembangan berfikir sangat bergantung kepada seberapa jauh anak aktif dan kreatif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, dalam pembelajaran inovatif tersebut guru harus menyiapkan segala fasilitas yang memungkinkan siswa dapat aktif, kreatif, efekif dan senang dalam menemukan sendiri pengetahuan dengan melakukan kegiatan-kegiatan.
Kreatif  yang dimaksud adalah guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkatan kemampuan siswa. Berpikir kreatif merupakan ciri yang khas dari proses belajar. 

1.PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Dewasa ini pembelajaran kontekstual berkembang di Negara-negara maju dengan berbagai nama. Di negara Belanda berkembang apa yang disebut dengan Realistic Mathematic Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang apa yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata.

Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Dalam bagian berikut akan disampaikan beberapa karakteristik pembelajaran kontekstual yang dikemukakan beberapa ahli. Menurut Johnson (2002:24), ada delapan komponen utama dalam system pembelajaran kontekstual, seperti dalam rincian berikut:
1.      Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections).
Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat belajar sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing).
2.      Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work).
Siwa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
3.      Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning)
Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan, ada tujuannya, ada urusanya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.  
4.      Bekerja sama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi, dan saling berkomunikasi.
5.      Berpikir kritis dan kreatif (critical, and creative thinking)
Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kretif dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
6.      Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurtuning the individual)
Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memeberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.
7.      Mencapai standar yang tinggi (reching authentic assessment)
Mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellent”.
8.      Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment)
Menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, pendidikan, matematika, dan pelajaran bahasa inggris dengan mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolah, atau membuat penyajian perihal emosi manusia.

Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasar penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah kontruktivisme (Contructivism), bertanya (Questionong), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerangkan, ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.  Dan untuk melaksanakan hal itu tidak sulit. Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaanya.
Keterkaitan ketujuh komponen tersebut digambarkan dalam bagan tersebut:


 



                       








Bagan keterkaitan antar komponen pembelajaran kontekstual.


Gambaran sederhana penerapan ketujuh komponen

(1)  Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan

KOMPONEN KONSTRUKTIVISME Sebagai filosofi
(2)   Laksanakan kegiatan inquiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan di semua bidang studi
KOMPONEN INKUIRI Sebagai strategi belajar
(3)   Bertanya sebagai alat belajar: kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
KOMPONEN BERTANYA
Sebagai keahlian dasar yang dikembangkan
(4)  Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
KOMPONEN MASYARAKAT BELAJAR
Sebagai penciptaan lingkungan belajar
(5)  Tunjukkan model sebagi contoh pembelajaran (benda-benda, guru, siswa lain, karya inovasi, dll )
KOMPONEN PEMODELAN
Model sebagai acuan pencapaian kompetensi

(6)  Lakukan refleksi di akhir penemuan agar siswa merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu.
KOMPONEN REFLEKSI
Sebagai langkah akhir dari belajar
(7)   Lakukan penilaian yang sebenarnya dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara.
KOMPONEN PENILAIAN


1. SINTAKS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
            Secara garis besar sintaks penerapan CTL adalah mencakup 7 (tujuh) komponen yaitu : kontruktivis, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya.

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1. Mengembangkan pemikiran anak agar belajar bermakna dengan cara bekerja sendiri


1. Siswa belajar dengan cara   menemukan sendiri dan mengkon-truksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.


2. Membimbing  kegiatan inkuiri



2. Melakukan kegiatan inkuiri


3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui bertanya



3. Mengembangkan keterampilan bertanya


4. Menciptakan masyarakat belajar




4. Melaksanakan belajar kelompok


5. Membimbing  pemodelan sebagai contoh pembelajaran



5. Melakukan pemodelan

6. Melaksanakan refleksi diakhir pertemuan


6.Mendapat balikan/refleksi

7. Melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara


7. Siswa mendapat penilaian yang sebenarnya/autentik

2.PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran Kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama siswa lain yang berbeda latar belakangnya.
Paradigma lama tentang proses pembelajaran yang bersumber pada teori tabula rasa John lick dimana pikiran seorang anak seperti kertas kosong dan siap menunggu coretan-coretan dari gurunya seperti kurang tepat lagi digunakan oleh para pendidik saat ini. Tuntutan pendidikan sudah banyak berubah. Pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dimana anak dapat aktif membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktive yaitu keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.
Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan, lihat dan dengar. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori konstruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional.
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah ; (1) belajar bersama dengan teman, (2) selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) saling mendengarkan pendapat diantara anggota kelompok, (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar dalam kelompok kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7) keputusan bergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif (Stahl, 1994). Senada dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1984) serta Hilke (1990) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah ; (1) terdapat saling ketergantungan yang positif 2 diantara anggota kelompok, (2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, (3) heterogen, (4) berbagi kepemimpinan, (5) berbagi tanggung jawab, (6) menekankan pada tugas dan kebersamaan, (7) membentuk keterampilan sosial, (8) peran guru/dosen mengamati proses belajar mahasiswa, (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok. Proses belajar terjadi dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang anggota), bersifat heterogen tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan akademik, jender, suku maupun lainnya.
Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru menggunakan STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam satu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu salam lain atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap 2 minggu siswa diberi kuis. Kuis itu skor dan tiap individu diberi skor perkembangan.
Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor siswa yang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu. Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu. Prosedur ini akan dijelaskan lebih rinci kemudian.



SINTAKS PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Sintaks Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1.Menyampaikan tujuan dan memo-tivasi siswa



1.Siswa membaca buku


2. Menyajikan informasi dengan berbagai cara



2.Menyimak informasi dan mencatat 

  

3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif



3. Siswa membentuk kelompok-kelompok belajar

4. Membimbing kelompok-kelompok belajar siswa untuk melaksanakan tugas



4. Siswa berdiskusi tugas kelompok

5. Melakukan evaluasi



5.Siswa mengerjakan tes 

6. Memberikan penghargaan indivi-du dan kelompok


6. Siswa memperoleh penghargaan




Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudia diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins. Dalam penerapan jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan 5 atau 6 anggota kelompok belajar heterogen. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan itu. Sebagai contoh, jika materi yang diajarkan itu adalah alat ekskresi, seorang siswa mempelajari tentang ginjal, siswa lain mempelajari tentang hati, siswa yang lain lagi belajar tentang paru-paru, dan yang terakhir belajar tentang kulit. Anggota dari kelompok lain yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Dengan demikian terdapat kelompok ahli kulit, ahli ginjal, ahli paru-paru, dan ahli hati.
Selanjut anggota tim ahli ini kembali ke kelornpok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan di dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya sendiri. Gambar 2 menunjukkan hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli. Menyusul pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa itu dikenai kuis secara indi­vidual tentang materi belajar. Dalam jigsaw versi Slavin, skor tim menggunakan prosedur skoring yang sama dengan STAD. Tim dan individu dengan skor-tinggi mendapat pengakuan dalam lembar pengakuan mingguan atau dengan cara lain.
Kelompok Asal
5 atau 6 anggota yang heterogen dikelompokkan


 




Kelompok ahli
(tiap kelompok ahli memiliki satu anggota dari tiap tim asal)

Gambar 2 Ilustrasi yang menunjukkan Tim Jigsaw

Sintaks Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggota 5-6 orang


1. Siswa membentuk kelompok  heterogen

2. Memberikan materi dalam bentuk teks yang dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab

2. Masing-masing kelompok mene-rima materi yang dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab


3.Meminta setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mema-hami sub bab yang ditugaskan


3. Tiap anggota kelompok berta-nggung jawab memahami materi yang ditugaskan

4. Meminta anggota kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok
ahli untuk mendiskusikannya


4. Anggota kelompok-kelompok lain yang mempelajari sub bab yang sama membentuk kelompok ahli untuk berdiskusi

5. Meminta setiap anggota kelom-pok ahli setelah kembali kekelom-poknya bertugas menjelaskan teman-temannya  


5. Setiap anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk mengajar teman-temannya

6. Memberikan kuis individual setelah pertemuan dan diskusi kelompok asal


6. Mengerjakan kuis individual

7. Memberikan penghargaan individu dan kelompok


7. Menerima penghargaan individu dan kelompok


3. PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI)
Pengertian Problem Based Instruction (PBI)
Menurut Arends (1997:156), model problem based instruction adalah suatu model yang berguna untuk mengembangkan tingkat berfikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah. Istilah lain yang digunakan sebagai pengganti problem based instruction atau pengajaran berdasarkan masalah ialah pengajaran berdasarkan proyek, berdasarkan pengalaman, autentik dan bermakna. Agar pengajaran itu bermakna, guru dapat membantu siswa untuk belajar memecahkan masalah dengan memberi tugas-tugas yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Pengajaran modelini cocok untuk materi pelajaran yang terkait erat dengan masalah nyata, meningkatkan proses untuk memecahkan masalah, mempelajari peran orang dewasa melalui pengalamannya dalam situasi yang nyata, dan melatih siswa untuk menjadi mandiri.
Secara garis besar problem based instruction menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan bantuan kepada siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. Pada pengajaran ini guru berperan untuk mengajukan permasalahan, pertanyaan dan menyediakan fasilitas yang diperlukan bagi siswa. Menurut Arends (1997:156), guru memberi scaffolding berupa dukungan dalam upaya meningkatkan inkuiri dan perkembangan intelektual siswa.
Ciri-ciri Problem Based Instruction (PBI)
Menurut Arends (1997 : 157) Problem Based Instruction memiliki ciri-ciri
khusus sebagai berikut :
(1). Pengajuan pertanyaan atau masalah
Pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang bermakna untuk siswa, situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana dan memungkinkan adanya berbagai solusi untuk situasi ini.
(2). Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain.
Meskipun pengajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, masalah yang akan diselidiki telah benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masala itu dari banyak mata pelajaran.
(3). Penyelidikan Autentik (Authentic Investigation)
Pengajaran berdasarkan masalah diperlukan untuk menyelidiki masalah autentik, mencari solusi nyata dari suatu masalah. Peserta didik menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen jika diperlukan, membuat inferensi dan menyimpulkan.
(4). Menghasilkan dan memamerkan (memajang) hasil kerja (Production of Artifact and exhibits)
Pengajaran berdasarkan masalah mengajak peserta didik menyusun dan memamerkan hasil kerja sesuai dengan kemampuannya. Setelah siswa selesai mengerjakan LKS, salah satu kelompok menyajikan hasil kerjanya di depan kelas dan siswa dari kelompok lain memberikan tanggapan, kritik terhadap pemecahan masalah yang disajikan temannya. Dalam hal ini guru mengarahkan, membimbing, memberi petunjuk kepada siswa agar aktifitas siswa terarah.
(5). Kolaborasi (Collaboration)
Pengajaran ini dicirikan dengan kerjasama dalam satu kelompok kecil. Kerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks dan meningkatkan inkuiri dan dialog pengembangan keterampilan berfikir dan keterampilan sosial.
Tujuan Problem Based Instruction
Tujuan pengajaran bukan mempelajari sebanyak mungkin materi pelajaran, tetapi bagaimana mengembangkan kemampuan dan keterampilan berfikir untuk memecahkan masalah autentik yang ada dimasyarakat, permodelan berbagai peran orang dewasa melali pelibatan siswa dalam pengalaman nyata, dan menjadi pembelajar yang mandiri.
Penerapan PBI di Kelas
Sintaks atau langkah-langkah pelaksanaan problem based instruction terdiri dari lima tahap yaitu orientasi siswa kepada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Arend, 1997 : 161).
Aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar pada setiap langkap problem based instruction dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.    Orientasi siswa pada masalah.
Saat awal fase pertama guru harus menginformasikan tujuan pembelajaran secara jelas, menumbuhkan sikap-sikap positif siswa terhadap pelajaran dan menjelaskan apa yang diharapkan untuk dilakukan siswa. Guru harus menjelaskan hal-hal berikut.
a.    Tujuan utama dari pembelajaran yaitu tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi pembelajaran mandiri.
b.    Masalah yang diselidiki tidak memiliki jawaban mutlak benar.
c.    Selama tahap penyelidikan siswa akan didorong untuk mengajukan pertanyaan dan untuk mencari informasi. Guru bertindak sebagai fasilitator dan siswa harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan kelompoknya.
d.    Saat tahap analisis dan penjelasan siswa harus didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan bebas.
2.    Mengorganisasi siswa untuk belajar.
Problem based instruction membutuhkan keterampilan kolaborasi di antara siswa yang membantu mereka untuk menyelidiki masalah bersama. Oleh karena itu guru perlu memberikan bantuan dalam hal perencanaan penyelidikan mereka dan tugas-tugas pelaporan.
3.    Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Kebanyakan penyelidikan melibatkan aktivitas pengumpulan data dan eksperimen, tahap ini guru mendorong siswa melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data yang aktual sampai benar-benar mengerti tujuannya. Tujuannya ialah agar siswa dalam mengumpulkan informasi cukup memahami dalam mengembangkan dan menyusun ide-ide mereka sendiri.
4.    Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Tahap penyelidikan diikuti pameran. Peragaan poster sesuai kemampuan kognitif anak usia SD. Guru seringkali mengorganisasikan pameran untuk mempublikasikan hasil karya siswa tersebut kepada seluruh kelas atau kepada orang tua untuk mendapatkan umpan balik. Pameran memiliki arti lain selain untuk memamerkan hasil-hasil kerja siswa, yaitu merupakan penutup dari proyek berdasarkan masalah tersebut.
5.    Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.
Tahap akhir problem based instruction menurut Arends (1997:177), meliputi aktivitas yang dimaksudkan untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri juga keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual yang mereka gunakan. Selama tahap ini, guru meminta siswa untuk melakukan rekonstruksi pemikiran dan aktifitas mereka selama tahap-tahap pelajaran yang telah dilewatinya.
Manfaat Pengajaran Berdasarkan Masalah
Pengajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual, belajar berbagi peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri.

Menurut Ibrahim (2003:15) di dalam kelas PBI, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBI antara lain sebagai berikut :
1)    Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari.
2)    Memfasilitasi/membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/percobaan,
3)    Memfasilitasi dialog siswa dan
4)    Mendukung belajar siswa.
                Pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima langkah seperti pada tabel berikut.

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa terlibat pada pemecahan masalah


1. Siswa menyimak informasi dan termotivasi untuk belajar 

2. Membantu  siswa mendefinisikan   dan mengorganisasikan tugas pemecahan  masalah


2. Melaksanakan tugas pemecahan  masalah secara berkelompok

3.Membimbing siswa melakukan penyelidikan  



3. Melakukan penyelidikan dan mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah

4. Membimbing siswa merencana kan dan menyiapkan karya untuk disajikan


4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

5.Membantu siswa untuk melakukan evaluasi proses pemecahan masalah


5. Melakukan evaluasi terhadap proses pemecahan masalah

4. PEMBELAJARAN INKUIRI
Pengertian Pembelajaran Inkuiri
Sund, seperti yang dikutip oleh Suryosubroto (1993:193) menyatakan bahwa discovery merupakan bagian dari inquiry, atau inquiry merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Inkuiri yang dalam bahasa inggris inquiri berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inquiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Gulo (2002) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran dan (3) mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah :
(1)  Aspek sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi,
(2)  Inkuiri berfokus pada hipotesis dan
(3)  Penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta).
Untuk menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah sebagai berikut:
(1)  Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir.
(2)  Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan.
(3)  Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat.
(4)  Administrator, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas.
(5)  Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan
(6)  Manajer, mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi kelas.
(7)  Revarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah ke dalam waktu yang relatif singkat. Hasil penelitian Schlenker, dalam Joyce dan Weil (1992:198), menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.
Munandar (1990:47), mengemukakan beberapa perumusan kreativitas adalah sebagai berikut :
“ Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan – berdasarkan data atau informasi yang tersedia- menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah di mana penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan beragam jawaban.” Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah makin kreativitas seseorang. Tentu saja jawaban itu harus sesuai dengan masalahnya. Jadi tidak semata-mata banyaknya jawaban yang dapat diberikan yang menentukan kreativitas, tetapi juga kualitas atau mutu dari jawabannya.”

Lebih lanjut Munandar, memberikan alasan bahwa kreativitas pada anak perlu dikembangkan karena :
“....dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, memberikan kepuasan kepada individu dan memungkinkan meningkatkan kualitas hidupnya.”
Dewasa ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif dari masyarakat, untuk itu perlulah sikap dan perilaku dipupuk sejak dini pada peserta didik yang kelak mampu menghasilkan pengetahuan baru.
Ciri perkembangan afektif yaitu menyangkut sikap dan perasaan, motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu misalnya rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan siswa sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh siswa lain, tidak mudah putus asa, menghargai diri sendiri maupun orang lain. (Munandar, 1990:51)
Proses Inkuiri
Gulo (2002) menyatakan, bahwa inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan inkuiri merupakan suatu proses yang bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Gulo (2002) menyatakan, bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut :
a.      Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan
Kegiatan inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan di papan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis
b.      Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.
c.      Mengumpulkan Data
Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik atau grafik.
d.      Analisis Data
Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisa data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran, “benar” atau “salah”. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inkuiri yang telah dilakukannya.
e.      Membuat Kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa.
Pembelajaran dengan Metode Inkuiri Suchman
Berdasarkan uraian pembelajaran inkuiri umum, kita dapat melihat bahwa waktu dan sumber yang tersedia merupakan permasalahan dalam pembelajaran. Menanggapi permasalahan ini, Richard Suchman mengembangkan suatu pembelajaran inkuiri yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suchman tentang model inkuiri ini menunjukkan bahwa keterampilan inkuiri siswa meningkat dan motivasi belajarnya juga meningkat.
Dahlan (1990:35) menyatakan bahwa Suchman berkeyakinan bahwa sisa akan lebih menyadari tentang proses penyelidikannya dan mereka dapat diajarkan tentang prosedur ilmiah secara langsung. Selanjutnya, Suchman berpendapat tentang pentingnya membawa siswa pada sikap bahwa semua pengetahuan bersifat tentatif. Joyce (1992:199) menyatakan, bahwa teori Suchman dapat dijabarkan sebagai berikut :
(1)   Mengajak siswa membayangkan seakan-akan dalam kondisi yang sebenarnya.
(2)   Mengidentfikasi komponen-komponen yang berada disekeliling kondisi tersebut.
(3)   Merumuskan permasalahan dan membuat hipotesis pada kondisi tersebut.
(4)   Memperoleh data dari kondisi tersebut dengan membuat pertanyaan dan jawabannya “ya” atau “tidak”
(5)   Membuat kesimpulan dari data-data yang diperolehnya.
Pembelajaran inkuiri dengan metode Suchman menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada siswa sebagai alternatif untuk prosedur pengumpulan data.
(1)  Penelitian dapat diselesaikan dalam waktu satu periode pertemuan. Waktu yang singkat ini memungkinkan siswa dapat mengalami siklus inkuiri dengan cepat, dan dengan pelatihan mereka akan terampil melakukan sesuatu.
(2)  Lebih efektif dalam semua bidang di dalam kurikulum
Perbedaan umum antara inkuiri Suchman dengan inkuiri umum adalah pada proses pengumpulan data. Suchman mengembangkan suatu periode penemuan baru yang menuntun siswa mengumpulkan data melalui bertanya.
Struktur Sosial Pembelajaran
Suasana kelas yang nyaman merupakan hal yang penting dalam pembelajaran inkuiri Suchman karena pertanyaan-pertanyaan harus berasal dari siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kerjasama guru dengan siswa, siswa dengan siswa diperlukan juga adanya dorongan secara aktif dalam berpikir dan bertanya, akan lebih baik hasilnya jika dibanding bila siswa bekerja sendiri.
Peran Guru
Pembelajaran inkuiri Suchman, peran guru memonitor pertanyaan siswa untuk mencegah agar proses inkuiri, tidak sama dengan permainan tebakan. Hal ini memerlukan dua aturan penting, yaitu :
(1)  Pertanyaan harus dapat dijawab “ya” atau “tidak” dan harus diucapkan dengan suatu cara siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan pengamatan.
(2)  Pertanyaan harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan guru memberikan jawaban pertanyaan tersebut, tetapi mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri.







                Tahapan yang digunakan dalam pembelajaran inkuiri adalah seperti pada tabel berikut.

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1.Menyajikan masalah 


1. Siswa mengidentifikasi masalah dan dituliskan di papan tulis


2. Membimbing siswa membentuk kelompok


2. Membentuk kelompok-kelompok  belajar


3. Membimbing siswa membuat hipotesis


3. Siswa membuat hipotesis  yang relevan permasalahan


4. Memberikan kesempatan pada siswa menentukan langkah-langkah percobaan


4. Merancang percobaan dan mengidentifikasi variabel

5. Membimbing siswa melakukan percobaan

5. Melakukan percobaan untuk mendapatkan informasi


6. Membimbing siswa mengumpul-kan dan menganalisa data

6. Menyampaikan hasil analisa data



7. Membimbing siswa membuat kesimpulan


7. Membuat kesimpulan


5.PEMBELAJARAN PETA KONSEP
Pengertian Konsep dan Peta Konsep
Konsep atau pengertian merupakan kondisi utama yang diperlukan untuk menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan bjek-objeknya (Djamaraj & Zain, 2002:17). Carrol (dalam Kardi, 1997:2) mendefinisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Contoh bila seseorang ingin membuat abstraksi tentang daun, ia memusatkan pada warna daun dan mengabaikan bahwa daun sebagai habitat ulat daun. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menguasai konsep seseorang harus mampu membedakan antara benda yang satu dengan benda yang lain. Dengan menguasai konsep siswa akan dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu, misalnya menurut warna, bentuk, besar, jumlah dan sebagainya. Contoh konsep dalam biologi adalah biotik, abiotik, individu, populasi, dan komunitas. Dengan demikian konsep-konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan dalam belajar. Dengan menguasai konsep, dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan yang tidak terbatas.
Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi garfis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama (Martin, 1994). Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1989) yang dikutip oleh Erman (2003), mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut :
(1)  Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
(2)  Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan proporsional antara konsep-konsep.
(3)  Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep yang lain.
(4)  Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.
Berdasarkan ciri tersebut di atas maka sebaiknya peta konsep disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep-konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif. Dalam IPA peta konsep membuat informasi abstrak menjadi konkret dan sangat bermanfaat meningkatkan ingatan suatu konsep pembelajaran, dan menunjukkan pada siswa bahwa pemikiran itu mempunyai bentuk.
Macam-macam Peta Konsep
Menurut Nur (2000b), peta konsep ada empat macam yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map) dan peta konsep laba-laba ( Spider concept map).
a.    Pohon Jaringan (Network Tree)
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata yang lain dituliskan pada garis-garis penghubung. Garis-garis pada peta konsep menunjukkan hubungan antara ide-ide itu. Kata-kata yang ditulis apda garis memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftarlah konsep-konsep utama yang berkaitan dengan konsep itu. Periksalah daftar dan mulai menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu. Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) menunjukkan sebab akibat, (b) suatu hirarki, (c) prosedur yang bercabang, dan (d) istilah-istilah yang berkaitan dengan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
Contoh peta konep model pohon jaringan dapat dilihat pada gambar di bawah ini :









                                Peta Konsep Pohon Jaringan Komponen Ekosistem

b.    Rantai Kejadian (Events Chain)
Nur (2000b) mengemukakan, bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur atau tahap-tahap dalam suatu proses. Dalam membuat rantai kejadian, partama-tama temukan satu kejadian yang mengawali rantai itu. Kejadian ini disebut kejadian awal. Kemudian temukan kejadian berikutnya dalam rantai itu dan lanjutkan sampai mencapai suatu hasil. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) memerikan tahap-tahap dari suatu proses, (b) langkah-langkah dalam suatu prosedur linier, dan (c) suatu urutan kejadian.
Contoh peta konsep model rantai kejadian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

                                                      Kejadian awal







Peta konsep rantai kejadian suksesi primer
c.    Peta Konsep Siklus (Cycle Concept Map)
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final. Kejadian terakhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Karena tidak ada hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke kejadian awal, siklus itu berulang dengan sendirinya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukkan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang (Nur, 2000b).
Contoh peta konsep siklus dapat dilihat pada gambar di bawah ini :


 





Peta Konsep Siklus Air
d.    Peta Konsep Laba-Laba ( Spider Concept Map)
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampu aduk. Banyak dari ide-ide dan ini berkaitan dengan ide sentral itu namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal berikut : (a) tidak menurut hirarki, (b) kategori yang tidak paralel, dan (c) hasil curah pendapat.


 








                                       Peta konsep laba-laba tentang pencemaran lingkungan

Peta Konsep sebagai Alat Evaluasi
Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep dapat digunakan untuk mengetahui pengetahuan siswa sebelum guru mengajarkan suatu topik, menolong siswa bagaimana belajar, untuk mengungkapkan konsepsi salah (miskonsepsi) yang ada pada anak, dan sebagai alat evaluasi. Menurut Dahar (1989) dalam Sutowijoyo (2002), peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan atas tiga prinsip dalam teori kognitif Ausubel, yaitu :
(1)  Struktur kognitif diatur secara hirarkis dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat, terhadap konsep-konsep dan proporsisi-proporsisi yang kurang inklusif dan lebih khusus.
(2)  Konsep-konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi progresif. Prinsip ini menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan dibentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi dan dibuat lebih inklusif.
(3)  Prinsip penyesuaian integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaiatan baru antara segmen-segmen konsep atau proposisi. Dalam peta konsep penyesuaian integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara segmen-segmen konsep.
Karena peta konsep bertujuan untuk memperjelas pemahaman suatu bacaan, sehingga dapat dipakai sebagai alat evaluasi dengan cara meminta siswa  untuk membaca peta konsep dan menjelaskan hubungan antara konsep satu dengan konsep yang lain dalam satu peta konsep.







            Peta konsep merupakan diagram hierarki yang kadang-kadang memfokus pada hubungan sebab akibat. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1.Membimbing siswa mengidentifi -kasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep


1. Mengidentifikasi ide pokok atau ide utama atau konsep yang melingkupi sejumlah konsep

2. Membimbing siswa mengidentifi-kasi ide sekunder yang menunjang ide pokok


2. Mengidentifikasi ide sekunder yang menunjang ide pokok

3.Membimbing siswa menempatkan ide pokok di puncak atau di tengah peta


3. Menempatkan ide pokok di puncak atau  di tengah peta

4.Membimbing siswa menempatkan ide sekunder di sekeliling ide pokok yang menunjukkan adanya hubung-an


4.Menempatkan ide sekunder di sekeliling ide pokok

6.PEMBELAJARAN SALINGTEMAS
 Pengertian
Salingtemas merupakan pembelajaran yang menekankan kepada siswa untuk berpikir komprehensif dengan menggunakan secara terintegratif berbagai pengetahuan yang dimiliki yang mengarah pada produk yang kreatif dan inovatif pada bidang yang ditekuni dengan berlandaskan sains dan teknologi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  Karakteristik Pembelajaran/ Pendekatan Sets
Pendekatan SETS memiliki kepanjangan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat. Secara mendasar dapat dikatakan bahwa melalui pendekatan SETS ini diharapkan anda/siswa akan memiliki kemampuan memandang sesuatu secara integrasi dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang dimiliki. Urutan ringkasan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk Teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperlukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendekatan SETS yang relatif memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan (manusia). Pendekatan SETS bertujuan :
(1).   Membantu siswa/anda mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.
(2).   Agar siswa mengetahui cara menyelesaikan masalah-masalah yang timbul akibat berkembangnya masalah yang berkaitan dengan masyarakat.
Hakekat dan tujuan pembelajaran SETS adalah agar melalui pembelajaran ini dapat membuat siswa mengerti unsur-unsur utama SETS serta keterkaitan antar unsur-unsur tersebut pada saat mempelajari sains. Topik-topik terpilih dapat merupakan bahasan konsep sains yang berkaitan dengan teknologi dan lingkungan yang sesuai dengan topik sains yang perlu diajarkan. Akan tetapi, tergantung pada perhatian sesaat masyarakat, fokus perhatian itu akan berubah-ubah dari masa ke masa. Oleh sebab itu, dapat saja pada saat tertentu pusat perhatian pada sains, pada lingkungan, pada teknologi atau kepada kepentingan masyarakat. Dari topik-topik inilah, yang akan menentukan unsur mana dari SETS tersebut yang perlu atau sedang diberi perhatian khusus pada saat itu. Akan tetapi secara keseluruhan, keempat unsur SETS tersebut akan selalu menyatu dan tak terpisahkan dalam pembelajaran. Misalkan yang menjadi pusat perhatian pada masa ini adalah lingkungan, maka lingkungan diungkapkan sebagai pusat perhatian. Keterkaitan keempat unsur-unsur SETS dapat dilihat pada gambar berikut.
 









                                                      Hubungan antar unsur SETS
                                                 Lingkungan menjadi fokus perhatian
Pada gambar tersebut dilihat bahwa, unsur-unsur SETS menggambarkan dominasi setara antara Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat. Pada keadaan tertentu seperti misalnya, India dan Pakistan saling bersaing dalam kemampuan mengendalikan senjata nuklir, maka pada masa itu fokus perhatian lebih pada teknologi, bukan pada lingkungan, sains, atau masyarakat. Maka gambaran keterkaitan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

 






                                                SETS yang fokus perhatiannya
                                              Ditujukan pada bidang teknologi


Pada gambar ini terlihat unsur teknologi digambarkan berada di tengah sebagai ungkapan atau pernyataan bahwa perhatian utama masyarakat pada masa tersebut adalah pada bidang teknologi.
Jika perhatian pada keadaan perekonomian yang gawat seperti yang terjadi di sejumlah negara. Maka perhatian utama, masyarakat tentu akan tertumpu pada kepentingan masyarakat. Dalam arti untuk kondisi semacam itu masalah sains dan teknologi dikesampingkan hingga unsur masyarakat mendapat keutamaan. Dalam keadaan semacam ini, maka keterkaitan antara unsur-unsur SETS dapat ditampilkan seperti gambar.



 





                                                     Keterkaitan antar unsur SETS
                                               Masalah masyarakat sedang mendapat
                                                            Perhatian utama
Pada keadaan tertentu atau situasi tertentu, kita memberi perhatian lebih besar kepada bidang sains. Pada saat itu seolah-olah sains menjadi primadona dari segalanya, maka fokus perhatian pada pembelajaran adalah sains. Dalam keadaan semacam ini, maka keterkaitan antara unsur-unsur SETS dapat ditampilkan seperti gambar
 






                                                     Keterkaitan antar unsur SETS
                                          Fokus perhatian ditujukan pada unsur sains

Dengan meletakkan sains sebagai fokus perhatian, seperti yang biasa dilakukan dalam kegiatan pengajaran sains, maka guru sains serta para siswa yang menghadapi pelajaran sains dapat dibawa melihat bentuk keterkaitan sebenarnya dari ilmu yang dipelajarinya (sains) dikaitakan dengan unsur lain dalam SETS. Oleh karena sepertiyang diungkapkan di atas, bahwa masing-masing unsur SETS itu saling terkait, maka dalam pengajaran sains seharusnya guru dan siswa dapat mengambil berbagai contoh serta fakta yang ada atau kemungkinan fakta yang dapat dikaitkan secara terpadu dalam pengenalan atau pembelajaran konsep sains yang dihadapi sesuai dengan tujuan pengajaran dan pada saat memungkinkan siswa mengembangkan diri berdasarkan pengetahuan yang dipelajari tersebut. Jangan hanya memberi perhatian lebih terhadap sains. Tanpa memperhatikan konsteks SETS, tidak tertutup kemungkinan bahwa arah kegiatan sains yang mereka lakukan itu sepenuhnya memfokus pada entitas sains itu sendiri (dengan kemungkinan gerak ke arah teknologi) tanpa memikirkan dampaknya pada masyarakat ataupun lingkungan. Akan tetapi apabila ketekunan mereka di bidang sains tersebut selalu dikaitkan dengan unsur lain dalam SETS secara terintegratif dan bertanggung jawab, maka kesejahteraan kehidupan di muka bumi itulah yang dapat kita peroleh.
Demikian pula halnya dengan teknologi, kemajuan dan perkembangannya sangat ditentukan oleh kemajuan sains, kepentingan masyarakat dan keadaan lingkungan. Pada saat yang sama kemajuan teknologi itu akan berpengaruh kepada perkembangan sains, masyarakat serta lingkungan dalam berbagai bentuk. Kepentingan masyarakat sendiri juga dibatasi oleh kemampuan sains serta teknologi serta sumber daya yang terdapat pada lingkungan. Yang terpenting, kondisi lingkungan sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat akan kepentingannya, adanya teknologi yang akan menjaga atau menghancurkannya, serta keberadaan sains yang memerlukan eksistensinya.
Pembelajaran SETS, tak hanya memperhatikan isu masyarakat dan lingkungan yang telah ada dan mengkaitkannya dengan unsur lain, akat tetapi juga pada cara melakukan sesuatu untuk kepentingan masyarakat dan lingkungan itu yang memungkinkan kehidupan masyarakat serta kelestarian lingkungan terjaga sementara kepentingan lain terpenuhi.
Itulah sebabnya kenapa pembelajaran SETS memberi perhatian tinggi pada keterkaitan serta keterpaduan antar keempat unsur SETS beserta urutannya. Dalam arti untuk membuat konsep sains berguna dalam teknologi untuk memenuhi keperluan masyarakat, maka akibatnya pada lingkungan perlu mendapat perhatian utama. Apabila akibat pada lingkungan (baik fisik maupun mental) sangat tidak menguntungkan, pembelajaran SETS tak menganjurkan penggunaan konsep sains itu diteruskan ke bentuk teknologi yang dimaksud. Sebaliknya apabila transformasi sains ke teknologi tersebut dianjurkan untuk diteruskan guna memenuhi kepentingan masyarakat dalam konteks SETS, unsur lingkungan merupakan filter dari unsur S (sains) untuk diubah menjadi T (teknologi) dalam memenuhi kepentingan M (masyarakat).

                                                        SKEMA

 










                                              Gambar Skema Model Pembelajaran

Jelas bahwa melalui pembelajaran SETS siswa akan selalu dan seharusnya selalu dibawa ke suasana yang memberi perhatian kepada setiap unsur yang ada dalam SETS itu sendiri beserta perhatian pada makna urutan beserta implikasinya dalam kegiatan pengajaran sains. Pendekatan SETS
Dalam pembelajaran SETS, tentunya pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan SETS itu sendiri. Sejumlah ciri atau karakteristik dari pendekatan SETS adalah sebagai berikut
§  Tetap memberi pengajaran sains.
§  Murid dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
§  Murid diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses penstranferan sains tersebut ke bentuk teknologi.
§  Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang dibincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antar unsur tersebut.
§  Murid dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian daripada menggunakan konsep sains tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi.
§  Dalam konteks konstruktivisme, murid diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa bersangkutan.
 Penerapan Pendekatan SETS dalam Pembelajaran
Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS murid diminta menghubungkan antara unsur SETS. Yang dimaksudkan adalah murid menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga kemungkinan murid memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan ataupun kekurangannya.
Sebagai contoh, dalam pembahasan tentang reproduksi (konsep sains), murid dapat diajak bicara tentang, cloning (teknologi), tentang akibat teknik percepatan tumbuh masyarakat melalui teknik kloning pada lingkungan (unsur lingkungan) dan tentang dampak yang terjadi oleh penggunaan kloning di masyarakat (unsur masyarakat). Kita lihat di situ, bahwa ada keterkaitan antar keempat unsur SETS di dalam pembicaraan tentang konsep reproduksi. Dalam pembahasan semacam itu, murid dapat diajak untuk membahas lebih jauh tentang berbagai macam isu berkaitan dengan butir-butir di atas sebatas kemampuan mereka berpikir. Namun demikian, dengan membuka lebih lebar lagi murid tentang sejauh mana mereka mempelajari informasi tersebut dari teknologi informasi yang telah dikenal luas, apakah itu melalui radio, televisi, atau internet. Tidak tertutup kemungkinan bahwa anak-anak juga menggunakan internet sebagai bagian dari kegiatan hidup mereka saat ini. Anak-anak masa kini memiliki karakteristik berbeda dengan anak seumur pada dua puluh tahun lampau. Dengan demikian, tempat serta tingkat pertumbuhannya pun juga akan berbeda.
Oleh karena untuk pengajaran dengan menggunakan pendekatan SETS kita dapat mulai dari manapun, maka membahas hal-hal yang agak sulit sekalipun akan dapat diatasi dengan cara memikirkan secara matang titik awal pembicaraan serta titik akhir sebagai tujuan kegiatan pengajaran tersebut.
Topik-topik Sains dan Hubungannya dengan SETS
Untuk memiliki kemampuan menghubungkaitkan antara topik sains yang dipelajari dengan unsur lain SETS, sebenarnya diperlukan kepekaan seorang guru sains. Setiap kali kita perlu menanyakan kepada diri kita sendiri sejumlah pertanyaan berikut :
§  Apa kegunaan konsep ini untuk masyarakat ?
§  Apakah akibat pengembangan konsep sains tersebut kepada teknologi ?
§  Teknologi apa yang dapat dibuat dengan konsep sains tertentu ?
§  Bagaimana sains dapat dipengaruhi oleh teknologi yang dikembangkan itu nanti ?
§  Bagaimana kesan masyarakat terhadap teknologi yang dikembangkan tersebut?
§  Bagaimanakah dampak teknologi tersebut kepada lingkungan ?
§  Bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan teknologi dan sains?
§  Bagaimana bentuk pengaruh tersebut terhadap perkembangan sains dan
teknologi ?
§  Bagaimana masyarakat secara langsung mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi ?
§  Dan sebagainya.
Berpedomankan pada sejumlah pertanyaan di atas guru sains seharusnya tidak akan alami kesulitan dalam hal mencari hubungkait antara topik-topik sains dalam pelajaran dengan unsur-unsur lain SETS yang ingin diajarkan. Satu atau dua contoh kecil di atas telah membawa guru kepada pengenalan tentang cara menghubungkaitkan antara topik sains dengan unsur lain SETS sebagai manifestasi penggunaan pendekatan SETS pada waktu mengajar sains.
Oleh karena guru juga dapat mengawali pengajaran sains dalam konteks SETS dari mana saja, maka guru dapat mengambil bahan dari berbagai sumber untuk mengajar sains. Sebagai contoh dalam penerapan pendekatan SETS untuk pengajaran sains dapat kita ambil salah satu topik yang sering dan perlu kita perkenalkan mengikuti silabus pengajaran sains yang ada.
Misalnya, kita ingin memperkenalkan konsep kecepatan dalam pengajaran IPA kelas V. Di sini konsep kecepatan tersebut sudah kita kenal sebagai konsep sains. Selanjutnya, karena kebiasaan kita untuk selalu membahas konsep sains tersebut dimulai dari konsep itu sendiri, maka kita anggap bahwa konsep kecepatan tersebut sebagai fokus perhatian sesaat (setidaknya pada waktu mengajarkan konsep). Berkenaan dengan kondisi tersebut, maka gambaran keterkaitan antara unsur sains (konsep) dengan unsur lain dalam SETS akan tercermin dalam diagram berikut :



 






Keterkaitan antar unsur SETS Dalam pembahasan konsep ecepatan dalam pengajaran sains
Seperti halnya dengan uraian di atas, maka dalam penerapan pengajaran saisnya, dalam konteks SETS ini maka sejumlah pertanyaan berikut mungkin dapat dipakai sebagai pedoman untuk melaksanakan pengajaran atau pengenalan konsep kecepatan.
Pertanyaan –pertanyaan berikut, karenanya dapat dipakai sebagai pemacu kegiatan belajar konsep kecepatan dalam konteks SETS.
§  Apa yang dimaksud dengan kecepatan ?
§  Bagaimana anda membuktikan bahwa kecepatan itu ada ?
§  Apa kegunaan konsep kecepatan untuk masyarakat ?
§  Teknologi apa yang dapat dibuat dengan konsep sains tersebut ?
§  Apakah akibat perkembangan konsep kecepatan kepada teknologi ?
§  Bagaimana konsep kecepatan dapat dipengaruhi oleh teknologi yang dikembangkan itu nanti ?
§  Bagaimana kesan masyarakat terhadap teknologi yang dikembangkan dari konsep kecepatan tersebut ?
§  Bagaimanakah dampak teknologi berdasarkan kecepatan tersebut kepada lingkungan ?
§  Bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan teknologi berdasarkan kecepatan ?
§  Bagaimana bentuk pengaruh tersebut terhadap perkembangan konsep kecepatan dan teknologi kecepatan ?
§  Bagaimana masyarakat secara langsung mempengaruhi perkembangan konsep kecepatan dan teknologi menggunakan konsep kecepatan ?
Tugas lebih mendalam mungkin dapat diberikan kepada siswa dengan meminta mereka menerapkan konsep sains tersebut ke dalam bentuk teknologi yang sesungguhnya (tergantung kemampuan para siswanya ), secara individual atau secara berkelompok.
Contoh Tugas
Buatlah secara berkelompok (tidak lebih dari lima orang ) suatu alat yang
dapat dipakai untuk pengangkutan barang seberat 75-100 kg dan dapat  dikendalikan dengan kecepatan minimal 10 km perjam.
Persyaratan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
§  Berat alat itu sendiri tidak melebihi 20 kg
§  Tenaga penggerak hendaknya tidak menghasilkan polusi atau gangguan pada lingkungan.
§  Alat tersebut aman dipakai.
§  Dapat menempuh jarak tidak kurang dari 10 km dalam suatu angkutan.
§  Biaya pembuatan peralatan hendaknya tidak melebihi lima puluh ribu rupiah.
Tugas di atas hendaknya dapat diselesaikan dalam masa satu minggu, selanjutnya jawab pertanyaan berikut :
§  Apakah benda yang akan anda angkut dengan peralatan tersebut ?
§  Dimanakah tempat penggunaan peralatan anda, secara ekonomis dan keramahannya terhadap lingkungan, dibanding dengan peralatan lain sejenis itu ?
§  Tunjukkan hasil percobaan anda, berapa kecepatan maksimal yang dapat dicapai dengan menggunakan peralatan anda untuk pengangkutan barang sebanyak 100 kg dengan jarak 10 km.
§  Berapakah percepatan setelah peralatan anda bergerak setelah 5 menit pertama?
Dari contoh sederhana di atas, anda kini dapat memperkirakan betapa kegiatan pengajaran sains dengan pendekatan SETS dapat menjadi sangat menarik atau bermanfaat, tergantung dari bentuk tugas yang anda berikan kepada para siswa anda.


            Dalam pendidikan SETS pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan SETS itu sendiri dengan langkah-langkah seperti pada tabel  berikut.

Kegiatan Guru


Kegiatan Siswa

1.Membimbing siswa memilih topik sains yang digunakan untuk acuan


1. Berdiskusi menentukan topik yang dijadikan acuan

2. Membimbing siswa mengubah konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat


2. Berdiskusi mentransfer sains ke bentuk teknologi

3. Bersama siswa berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat pentransferan sains kebentuk teknologi


3. Berdiskusi tentang dampak yang mungkin muncul dari pentransferan sains ke teknologi

4. Menjelaskan keterkaitan antara unsur sains dengan unsur lain dalam SETS yang saling berpengaruh


3.Menyimak informasi keterkaitan antara unsur-unsur dalam SETS yang saling berpengaruh

5. Mempertimbangkan manfaat dan kerugian pentransferan konsep sains  ke bentuk teknologi 


5. Berdiskusi agar pentransferan sains ke teknologi dapat bermanfaat semaksimal mungkin bagi masya-rakat 
6. Mengajak siswa berbincang tentang SETS dari baerbagai arah dengan konteks kontrukstivis   

6. Berdiskusi tentang SETS dari berbagai arah dan berkonteks kontruktivis



7.PEMBELAJARAN TEMATIK
A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema "Air" dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika, biologi, kimia, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran. Materi pelajaran tidak dibatasi oleh jam pelajaran, melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari, mencakup berbagai mata pelajaran.
2.    Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan alami.
3.    Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinyu, tidak terbatas pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan empat dinding kelas.
4.    Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan belajar ke berbgai aspek kehidupan.
5.    Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai sudut pandang.
6.    Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan pada kompetisi bisa dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi.
Keuntungan pembelaj aran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
2.    Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integrative
3.    Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa - yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar.
4.    Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.
5.    Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga maningkatkan apresiasi dan pemahaman.
B. Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi
Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan .Badan Standar Nasional Pendidikan, dijelaskan bahwa untuk kelas I, II, dan III SD pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran yang harus dicakup adalah (l) pendidikan agama, (2) pendidikan kewarganegaraan, (3) bahasa Indonesia, (4) matematika, (5) ilmu pengetahuan alam, (6) ilmu pengetahuna sosial, (7) seni budaya dan keterampilan, dan (8) pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan.
Dalam pembelajaran tematik, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karena sifatnya masih minimal. Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), standar itu dapat diperkaya dengan muatan lokal atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan.
Cara Merancang Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memerlukan perencanaan dan pengorganisasian agar dapat berhasil dengan baik. Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran tematik, yaitu (1) memilih tema, (2) mengorganisir tema,  (3)mengumpulkan bahan dan sumber, (4) merancang kegiatan dan proyek, dan (5) mengimplementasikan satuan pelajaran.
1.    Memilih Tema
Topik untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber. Inilah beberapa di antaranya :
a.   Topik-topik dalam kurikulurn
b.   Isu-isu
c.   Masalah-masalah
d.   Even~event khusus
e.   Minat siswa
f.    Literatur
2.    Mengorganisasikan Tema
Pengorganisasian tema dilakukan dengan menggunakan jaringan topik.
3.    Mengumpulkan Bahan dan Sumber
Pembelajaran tematik berbeda dengan pembelajaran berdasarkan buku paket tidak hanya dalam mendesain, melainkan juga berbagai bahan yang digunakan. Inilah beberapa sumber:
a.   Sumber-sumber yang tercetak
b.   Sumber-sumber visual
c.   Sumber-sumber literatur
d.   Artifac
4.    Mendesain Kegiatan dan Proyek
Inilah beberapa saran:
  1. Integrasikan bahasa - membaca, menulis, berbicara, dan mendengar.
  2. Hendaknya bersifat holistik.
  3. Tekankan pada pendekatan “hands – on, minds-on”.
  4. Sifatnya lintas kurikulum
5.    Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik.
Beberapa kemungkinan implementasi :
  1. Lakukan pembelajaran tematik sepanjang hari, untuk beberapa hari.
  2. Lakukan pembelajaran tematik selama setengah hari, untuk beberapa hari.
  3. Gunakan pembelajaran tematik untuk satu atau dua mata pelajaran.
  4. Gunakan pembelajaran tematik untuk beberapa mata pelajaran.
  5. Gunakan pembelajaran tematik untuk kegiatan lanjutan.

                Pelaksanaan pembelajaran Tematik menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan meliputi :
a. Pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator dalam tema
            b. Penetapan jaringan tema
            c. Penyusunan silabus
            d. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
2. Tahap Pelaksanaan meliputi :
            a. Kegiatan pembukaan
            b. Kegiatan inti
c. Kegiatan Penutup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar