Selasa, 10 September 2013

Fasilitas Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus



Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus akan berjalan lancar mana kala didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai. Fasilitas tersebut berkaitan dengan karakteristik masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus. Kesesuaian fasilitas dengan karakteristik anak berkebutuhan khusus akan mendorong iklim belajar yang kondusif, sehingga anak akan belajar secara maksimal.
Fasilitas pendidikan anak berkebutuhan khusus berkaitan langsung dengan jenis ketunaannya. Misalnya, anak tunadaksa, mereka membutuhkan gedung yang tidak banyak tangga, lebih diutamakan yang berlantai satu. Bila lebih dari satu lantai harus tersedia lift atau tangga miring yang dapat dilalui kursi roda. Tersedia ruang terapi yang mendukung kegiatan bina diri dan aksesibilitas bagai mereka. Kamar mandi dan WC yang dapat digunakan bagi mereka (kursi roda dapat masuk), dan sebagainya. Walaupun beberapa fasilitas lain sama dengan anak normal. Misalnya buku pelajaran, koleksi perpustakaan, dan sebagainya.

1.      Fasilitas Pendidikan untuk Anak Tunanetra
Fasilitas penunjang pendidikan untuk anak tunanetra secara umum sama dengan anak normal, hanya memerlukan penyesuaian untuk informasi yang memungkinkan tidak dapat dilihat, harus disampaikan dengan media perabaan atau pendengaran. Fasilitas fisik yang berkaitan dengan gedung, seyogyanya sedikit mungkin parit dan variasi tinggi rendah lantainya, dinding dihindari yang mempunyai sudut lancip dan keras. Perabot sekolah sedapat mungkin dengan sudut yang tumpul.
Fasilitas penunjang pendidikan yang diperlukan untuk anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah braille dan peralatan orientasi mobilitas, serta media pelajaran yang menungkinkan anak untuk memanfaatan fungsi perabaan dengan optimal.
Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra antara lain adalah:
a.       Huruf Braille
Huruf Braille merupakan fasilitas utama penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra. Huruf Braille ditemukan pertama kali oleh Louis Braille. Ia menyusun tulisan yang terdiri dari enam titik dijajarkan vertikal tiga tiga. Dengan menempatkan titik tersebut dalam berbagai posisi maka terbentuklah seluruh abjad. Dengan menggunakan tulisan tersebut akan mempermudah para tuna netra membaca dan menulis.
Untuk membaca, titik timbul positif yang dibaca. Cara membaca seperti pada umumnya, yaitu dari kiri ke kanan. Sedangkan untuk menulis, prinsip kerjanya berbeda dengan membaca. Cara menulis huruf braille tidak seperti umunya yaitu mulai dari kanan ke kiri, biasanya sering disebut dengan menulis secara negatif. Jadi menulis braille secara negatif akan menghasilkan tulisan secara timbul positif, yang dibaca adalah tulisan timbulnya.
Ada tiga cara untuk menulis braille, yaitu dengan (1) reglet dan pen atau stilus, (2) mesik tik braille, dan (3) komputer yang dilengkapi dengan printer braille. Media yang digunakan berupa kertas tebal yang tahan lama (manila, atau yang lain). Kertas standar untuk braille adalah kertas braillon.
Untuk mendukung pembelajaran anak tunanetra, buku-buku pelajaran seyogyanya dialihtuliskan ke huruf braille dan disimpan dengan rapi secara berdiri tidak ditumpuk.
b.      Tongkat putih
Tongkat putih merupakan fasilitas pendukung anak tunanetra untuk orientasi dan mobilitas. Dengan tongkat putih anak tunanetra berjalan untuk mengenali lingkungannya. Berbagai media alat bantu mobilitas dapat berupa tongkat putih, anjing penuntun, kacamata elektronik, tongkat elektronik.
Program latihan orientasi dan mobilitas meliputi: jalan dengan pendamping orang awas, jalan mandiri, dan latihan bantu diri (latihan di kamar mandi dan wc, latihan di kamar makan, latihan di kamar tidur, latihan di dapur, latihan di kamar tamu) dan latihan orientasi di sekolah.
c.       Laser cane (tongkat laser)
Tongkat laser adalah tongkat penuntun berjalan yang menggunakan sinar infra merah untuk mendeteksi rintangan yang ada pada jalan yang akan dilalui dengan memberi tanda lisan (suara).
d.      Sonic Guide (penuntun bersuara)
e.       Optacon dan Optacon II
Optacon (optical-to-tactile converter) adalah perangkat yang memungkinkan tunanetra membaca tulisan awas melalui perabaan. Optacon terdiri dari sebuah kamera/mouse (kira-kira sebesar tube lipstick) yang dihubungkan dengan kabel ke sebuah kotak (kira-kira sebesar tape recorder ukuran sedang). Kamera tersebut mampu "melihat" bidang kira-kira seluas satu setengah huruf cetak. Kotak tersebut berisikan prosesor untuk menafsirkan gambaran yang ditangkap oleh kamera, dan 100 buah "jarum" yang tersusun 5 kali 20 yang digerakkan secara elektronik sehingga dapat timbul dan bergetar dalam bentuk sebagaimana yang dilihat oleh kamera. Bentuk yang dibangun oleh susunan jarum-jarum tersebut cukup besar untuk dapat dirasakan dengan jelas oleh permukaan ujung jari telunjuk. Untuk membaca, telunjuk diletakkan pada tactile array di mana bentuk yang bergetar itu muncul. Jika kamera membaca sebuah kata, huruf-huruf dari kata itu akan muncul satu per satu pada tactile array secara bergantian. Optacon dapat dipergunakan untuk membaca tulisan pada kertas maupun pada layar komputer. Sebuah mouse (yang dikendalikan oleh perangkat lunak yang dijalankan dalam komputer) atau lensa dalam Optacon diperlukan untuk dapat membaca layar komputer itu. Untuk dapat membaca dengan Optacon ini, tunanetra harus sudah mengenal bentuk tulisan awas.
f.       Kurzweil Reading Machine
g.      VersaBraille dan VersaBraille II

2.      Fasilitas pendidikan untuk anak tunarungu
Fasilitas penunjang untuk pendidikan anak tunarungu secara umum relatif sama dengan anak normal, seperti papan tulis, buku, buku pelajaran, alat tulis, sarana bermain dan olahraga. Namun karena anak tunarungu mempunyai hambatan dalam mendengar dan bicara, maka mereka memerlukan alat bantu khusus. Alat bantu khusus tersebut antara lain menurut Permanarian Somad dan Tati Hernawati, 1996 adalah audiometer, hearing aids, telephone-typewriter, mikro komputer, audiovisual, tape recorder, spatel, cermin.
a.       Audiometer
Audiometer adalah alat elektronik untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang. Melalui audiometer, kita dapat mengetahui kondisi pendengaran anak tunarungu antara lain:
1)             Apakah sisa pendengarannya difungsionalkan melalui konduksi tulang atau konduksi udara.
2)             Berapa desibel anak tersebut kehilangan pendengarannya
3)             Telinga mana yang mengalami kehilangan pendengaran , apakah telinga kiri, telinga kanan, atau kedua-duanya
4)             Pada frekuensi berapa anak masih dapat menerima suara.
Ada dua jenis audiometer, yaitu audiometer oktaf dan audiometer kontinyu. Audiometer oktaf untuk mengukur frekuensi pendengaran: 125 – 250 – 500 – 1000 – 2000 – 4000 – 8000 Hz. Audiometer kontinyu mengukur pendengaran antara 125 - 12000 Hz.
b.      Hearing Aids
Hearing aids atau alat bantu dengar mempunyai tiga unsur utama, yaitu: microphone, amplifier, dan reciever. Sedangkan prinsip kerjanya adalah sebagai berikut: suara (energi akustik) diterima microphone, kemudian diubah menjadi energi listrik dan dikeraskan melalui amplifier, kemudian diteruskan ke reciever (telepon) yang mengubah kembali energi listrik menjadi suara seperti alat pendengaran pada telepon dan diarahkan ke gendang telinga (membrana tympany).
Alat bantu dengan ada bermacam-macam, yaitu yang diselipkan di belakang telinga, di dalam telinga, dipakai pada saku kemeja (pocket), atau yang dipasang pada bingkai kaca mata. Dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aids) anak tunarungu dapat berlatih mendengakan, baik secara individual maupun secara kelompok.
Alat bantu dengan tersebut lebih tepat digunakan bagi anak tunarungu yang mempunyai kelainan pendengaran konduktif. Begitu pula alat bantu dengan akan lebih efektif jika digunakan sesuai dengan program pendidikan yang sistematis yang diajarkan oleh guru-guru yang profesional yang mampu memadukan ilmu pengetahuan anak berkebutuhan khusus dengan pengetahuan audiologi, dan patologi bahasa.
Anak tunarungu yang menggunakan alat bantu dengar diharapkan mampu memilih suara-suara mana yang diperlukan, dan dengan bantuan mimik dan gerak bibir dari guru (speech therapist), maka anak tunarungu dapat berlatih menangkap arti dari apa yang diucapkan oleh guru atau orang lain.
c.       Telephone-typewriter
Telephone-typewriter atau mesin tulis telepon merupakan alat bantu bagi anak tunarungu yang memungkinkan mereka mengubah pesan-pesan yang diketik menjadi tanda-tanda elektronik yang diterjemahkan secara tertulis (huruf tercetak).
Mesin tulis telepon terdiri dari telepon yang dilengkapi dengan alat pendengar, lampu kedap-kedip sebagai tanda panggilan, mesin tulis, komputer, dan amplifier. Mesin tulis ini memungkinkan perubahan pesan suara yang masuk ke dalam komputer dan mengubah tanda-tanda elektronik dan bunyi pada frekuensi yang berlainan yang kemudian disampaikan melalui telepon dan diubah kembali menjadi huruf tercetak yang dapat dimengerti oleh anak tunarungu.
d.      Mikrokomputer
Mikrokomputer merupakan alat bantu khusus yang dapat memberikan informasi secara visual. Alat bantu ini sangat membantu bagi anak tunarungu yang mengalami kelainan pendengaran berat. Keefektifan penggunaan mikrokomputer tergantung pada softwere dan materinya harus dapat dimengerti oleh anak tunarungu. Disamping itu anak tunarungu harus bisa membaca atau paling tidak mampu mengintepretasikan simbol-simbol yang digunakan.
Manfaat penggunaan mikrokomputer bagi anak tunarungu antara lain:
1.      Anak tunarungu dapat belajar mandiri, bebas tetapi bertanggung jawab
2.      Anak tunarungu dapat belajar membuat program, memprogram materi pelajaran, dan mendemonstrasikannya.
3.      Anak tunarungu dapat mengembangkan kreativitas berpikir dengan menggunakan mikrokomputer
4.      Anak tunarungu dapat berkomunikasi interaktif dengan informasi yang ada dalam program mikrokomputer.
e.        Audiovisual
Alat bantu audiovisual dapat berupa film, video-tapes, TV. Penggunaan audiovisual tersebut sangat bermanfaat bagi anak tunarungu, karena mereka dapat memperhatikan sesuatu yang ditampilkan sekalipun dalam kemampuan mendengar yang terbatas. Sebagai contoh, penayangan film-film pendidikan, film ilmiah populer, film kartun, dan siaran berita TV dengan bahasa isyarat.
f.       Tape Recorder
Tape recorder sangat berguna untuk mengontrol hasil ucapan yang telah direkam, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan bahasa lisan anak tunarungu dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. Selain itu, tape recorder sangat membantu anak tunarungu ringan dalam menyadarkan akan kelainan bicaranya, sehingga guru artikulasi lebih mudah membimbing mereka dalam memperbaiki kemampuan bicara mereka.
Tape recorder dapat pula digunakan untuk mengajar tunarungu yang belum bersekolah dalam mengenal gelak-tawa, suara-suara hewan, perbedaan antara suara tangisan dengan suara omelan, dan sebagainya.
g.      Spatel
Spatel adalah alat bantu untuk membetulkan posisi organ bicara, terutama lidah. Spatel digunakan untuk menekan lidah, sehingga kita dapat membetulkan posisi lidah anak tunarungu. Dengan posisi lidah yang benar mereka dapat bicara dengan benar.
h.      Cermin
Cermin dapat digunakan sebagai alat bantu anak tunarungu dalam belajar mengucapkan sesuatu dengan artikulas yang benar. Di samping itu, anak tunarungu dapat mengamakan ucapannya melalui cermin dengan apa yang diucapkan oleh guru atau Artikulator (speech therapist). Dengan menggunakan cermin, Artikulator dapat mengontrol gerakan-gerakan yang didak tepat dari anak tunarungu, sehingga mereka menyadari dalam mengucapkan konsonan, vokal, kata-kata, kalimat secara benar.

3.      Fasilitas pendidikan untuk anak tunagrahita
Fasilitas pendidikan untuk anak tunagrahita relatif sama dengan falilitas pendidikan untuk anak umum di sekolah dasar dan fasilitas pendidikan di taman kanak-kanak. Fasilitas pendidikan lebih diarahkan untuk latihan sensomotorik dan pembentukan motorik halus. Walaupun demikian fasilitas yang berkaitan dengan pembinaan motorik kasar juga perlu disediakan secara memadai. Secara garis besar fasilitas pendidikan yang harus disesuaikan dengan karakteristik anak tunagrahita adalah:
a.       Fasilitas pendidikan yang bekaitan latihan sensorimotor
Fasilitas pendidikan dan penunjang pendidikan bagi anak tunagrahita yang berkaitan dengan latihan sensomotorik di antaranya:
1)      berkaitan dengan visual: berbagai bentuk benda, manik-manik, warna, dsb.
2)      berkaitan dengan perabaan dan motorik tangan: manik-manik, benang, crayon, wash, lotion, kertas amril, dsb.
3)       berkaitan dengan pembau: kamper, minyak kayu putih, dsb.
4)       berkaitan dengan koordinasi: menara gelang, puzzle, meronce, dsb.
b.      Fasilitas pendidikan yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan keseharian
Fasilitas yang berkaitan dengan kehidupan keseharian (Activity Daily Leaving) berupa permainan untuk mendukung aktivitas kehidupan sehari-hari atau peralatan untuk latihan kehidupan sehari-hari, di antaranya: latihan kebersihan dan gosok gigi, latihan berpakaian, bersepatu, permainan dengan boneka dan alat lainnya, dsb.
c.       Fasilitas pendidikan yang berkaitan dengan latihan motorik kasar
Fasilitas yang berkaitan dengan latihan motorik kasar di antaranya dapat berupa: latihan bola kecil, latihan bola besar, permainan keseimbangan, dsb.

4.      Fasilitas pendidikan untuk anak tunadaksa
Fasilitas pendidikan untuk anak tunadaksa berkaitan dengan prasarana dan sarana langsung yang diperlukan dalam layanan pendidikan anak tunadaksa. Prasarana yang dirancang untuk anak tunadaksa hendaknya memenuhi tiga kemudahan (Musjafak Assjari, 1995), yaitu mudah keluar masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian. Sesuai dengan ketentuan tersebut, bangunan seyogyanya menghindari model tangga, bila terpaksa harus disediakan lief, lantai tidak banyak reliefnya, tidak banyak lubang, lebar pintu harus sesuai, kamar mandi dan WC memungkinkan kursi roda dan treepot bisa masuk, ada parallel bars, dinding kelas di lengkapi dengan parallel bars, meja dan kursi anak disesuaikan dengan kelainan anak.
Fasilitas pendukung pendidikan yang berkaitan dengan diri anak adalah:
a.       Brace
Brace merupakan alat bantu gerak yang digunakan untuk memperkuat otot dan tulang. Brace biasanya digunakan di kaki, punggung, atau di leher. Fungsi brace berguna untuk menyangga beban yang tertumpu pada otot atau tulang.
Brace terbuat dari kulit yang kaku atau plastik yang tebal dilapisi kain atau sepon atau karet pada tepi dan pinggirannya agar tidak terjadi decubitus (lecet) pada jaringan yang kontak langsung.
b.      Crutch (kruk)
Kruk adalah alat penyangga tubuh yang ditumpukan pada tangan atau ketiak untuk menyangga beban tubuh. Kruk terbuat dari kayu, pipa besi, pipa aluminium, atau pipa stainless steel yang berbentuk bulat setinggi ukuran tubuh pemakainya. Pada bagian atas tempat yang kontak dengan ketiak atau tangan diberi spon atau karet agar lunak dan tidak menyebabkan lecet bila dipakai.
Ada berbagai macam bentuk kruk, yaitu (1) standard double bar upright under arm chrutch, (2) extension crutch, (3) aluminium double bar upright extension crutch, (4) lofstrand crutch, (5) tricep crutch, (6) standard axillary crutch.
c.       Splint
Splint berasal dari bahasa Inggris yang berarti spalk ( bahasa Belanda). Alat ini bertujuan untuk meletakkan anggota tubuh pada posisi yang benar agar anggota tubuh yang sakit tidak salah bentuk
Ada dua macam splint, yaitu splint untuk anggota tubuh bagian atas (tangan) dan splint untuk anggota tubuh bagian bawah (kaki).
Splint dapat dibuat dari bahan gips, kulit sol, karton, kayu, celastic, dan orthoplast. Bahan-bahan tersebut dibentuk menurut posisi anggota gerak tubuh yang sakit.
d.      Wheel chair (kursi roda)
Menurut bentuknya, kursi roda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kursi roda yang roda besarnya di depan, dan kursi roda yang roda besarnya di belakang. Kursi roda yang roda besarnya di depan dapat berputar di tempat yang sempit. Kursi roda yang roda besarnya di belakang, dapat masuk kolong tempat tidur, sehingga memudahkan untuk berpindah tempat.
Selain fasilitas pendukung tersebut di atas, fasilitas lain yang mendukung pendidikan untuk anak tunadaksa adalah ruangan terapi dan peralatan terapi. Terapi yang berkaitan langsung dengan anak tunadaksa adalah fisioterapi, terapi bermain, dan terapi okupasi.

5.      Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras
Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras relatif sama dengan fasilitas pendidikan untuk anak normal pada umumnya. Fasilitas ruangan kelas tidak menggunakan benda-benda kecil yang terbuat dari bahan yang keras, sehingga mempermudah mereka untuk mengambil dan melemparnya. Fasilitas lain lebih berkaitan dengan ruangan terapi dan sarana terapi. Terapi tersebut meliputi:
a.       Ruangan fisioterapi dan peralatannya
Peralatan fisioterapi lebih diarahkan pada upaya peregangan otot dan sendi, dan pembentukan otot. Misalnya: barbel, box tinju, wash
b.      Ruangan terapi bermain dan peralatannya
Peralatan terapi bermain lebih diarahkan pada model terapi sublimasi dan latihan pengendalian diri. Misalnya puzzle, boneka
c.       Ruangan terapi okupasi dan peralatannya
Peralatan terapi okupasi lebih diarahkan pada pembentukan keterampilan kerja dan pengisian pengisian waktu luang sesuai dengan kondisi anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar